Ini bukan halaman pencapaian. Bukan portofolio. Bukan tempat buat terlihat keren. Ini cuma satu halaman yang berusaha merangkum perjalanan hidup gue apa adanya — dari lahir di Kebumen, lulus SMK, kehilangan ayah, kerja serabutan, usaha kecil, affiliate, trading rungkad, sampai hari ini masih berusaha berdiri.
Lahir di Kebumen, 19 Juli 1998. Anak ke-7, bungsu laki-laki, dengan 5 kakak perempuan dan 1 kakak laki-laki. Dari posisi itu, hidup gue sejak awal mungkin memang dibentuk oleh banyak hal: banyak suara, banyak contoh, banyak perbedaan usia, banyak cara pandang, dan mungkin juga rasa bahwa gue harus mencari bentuk diri gue sendiri di tengah keluarga yang sudah lebih dulu punya jalan masing-masing.
Secara kepribadian, gue cukup dekat dengan tipe INFP — banyak mikir, banyak rasa, sering idealis, dan kadang terlalu lama hidup di kepala sendiri. Tapi hidup mengajarkan gue sesuatu: idealisme doang nggak cukup. Kadang kita harus bertahan, jatuh, remuk, lalu belajar bangun ulang dari nol.
Gue menulis ini bukan sebagai orang yang sudah selesai. Gue menulis ini sebagai orang yang masih berjalan.
Bukan timeline per tahun yang kaku, tapi babak-babak hidup yang membentuk gue sampai hari ini.
Gue lahir di Kebumen sebagai anak ke-7. Tumbuh di tengah banyak suara dan perbedaan usia, mencari bentuk diri sendiri di keluarga yang sudah lebih dulu punya jalan. Lulus SMK jurusan TKJ di tahun 2016, tapi di tahun yang sama gue kehilangan ayah.
Dua peristiwa itu datang dalam satu waktu yang berdekatan: satu menandai akhir masa sekolah, satu lagi menandai kehilangan besar dalam keluarga dan hidup gue sendiri. Buat banyak orang, lulus sekolah adalah gerbang menuju masa depan. Buat gue, masa itu juga dibarengi dengan rasa kehilangan.
Langkah pertama gue ke dunia dewasa nggak datang dengan rasa ringan, tapi dengan campuran bingung, kosong, dan tekanan untuk tetap jalan. Gue kerja jadi waiters. Mungkin bukan jalur yang dulu dibayangkan, tapi saat itu hidup nggak kasih banyak waktu buat mikir terlalu lama.
Di 2017, gue mulai tertarik ke arah kreatif. Belajar editing video dan foto, lalu mencoba bikin YouTube. Hasilnya? Gagal. Tapi walaupun gagal, fase ini tetap penting. Karena untuk pertama kalinya gue mulai ngerasain bahwa di dalam diri gue ada bagian yang pengen menciptakan sesuatu, bukan cuma menjalani rutinitas hidup.
Di 2018, gue sempat merantau dan kerja serabutan, tapi cuma bertahan sekitar 4 bulan. Merantau sering terlihat seperti simbol keberanian. Tapi di balik itu, ada rasa asing, capek, sepi, dan kebingungan yang nggak selesai cuma karena pindah tempat. Gue pulang bukan sebagai orang yang sudah menemukan jalan, tapi sebagai orang yang makin sadar bahwa gue belum benar-benar tahu hidup ini mau dibawa ke mana.
Di 2019, gue kerja sebagai operator warnet. Di sana gue menjalani hari-hari yang sederhana. Nggak mewah. Nggak penuh sorotan. Tapi ada ritme, ada rutinitas, ada tempat untuk berdiri walau cuma sementara. Lalu di akhir 2020, warnet itu bangkrut dan gue keluar. Pola yang cukup sering terjadi di hidup gue: baru mulai punya pijakan, lalu pijakan itu hilang lagi.
Di 2021, gue kerja jaga stand sosis bakar. Fase yang mungkin nggak spektakuler, nggak layak dipamerkan, tapi jadi bukti bahwa seseorang sedang berusaha bertahan. Di masa seperti ini, hidup bukan soal ambisi besar. Hidup lebih sederhana: bangun, kerja, jalani hari, pulang, ulang lagi.
Di awal 2022, gue kerja di usaha tahu krispi. Tapi di bulan ke-5, gue di-cut partner. Buat gue, rasanya jauh lebih personal. Ada rasa sakit, ada rasa dibuang, ada rasa bahwa ketika gue mulai menaruh harapan, semuanya justru diputus di tengah jalan.
Tapi hidup nggak berhenti di situ. Di bulan ke-8 tahun yang sama, gue memutuskan untuk bangkit dan membangun usaha fried chicken sendiri. Ini jadi salah satu momen penting dalam hidup gue, karena untuk pertama kalinya gue nggak cuma ikut kerja — gue mencoba berdiri dengan nama dan tenaga gue sendiri. Usaha itu adalah bentuk perlawanan terhadap rasa jatuh yang sebelumnya gue rasakan.
Di 2023, pasar mulai drop. Ritme mulai berubah. Harapan yang sebelumnya terasa cukup terang mulai pelan-pelan redup. Di fase ini gue mulai belajar bahwa punya usaha sendiri bukan berarti hidup otomatis lebih aman. Kadang justru sebaliknya — kita harus menanggung ketidakpastian dengan kepala sendiri.
Di bulan ke-9 tahun 2024, gue menutup usaha fried chicken. Ini bukan keputusan yang ringan. Karena ketika lo menutup usaha yang lo bangun sendiri, yang hilang bukan cuma pemasukan. Kadang yang ikut hilang adalah rasa percaya diri, rasa kepemilikan, dan sebagian identitas yang sempat lo tempelkan pada usaha itu.
Setelah itu gue sempat kerja jadi host live TikTok, tapi nggak lama. Lalu gue mulai lebih fokus ke affiliate TikTok. Buat gue, ini bukan sekadar pindah kerjaan. Ini lebih seperti fase mencari bentuk hidup baru lagi setelah bentuk sebelumnya runtuh.
Awal 2025 terlihat menjanjikan. Gue iseng bikin konten affiliate speaker dari pojok kamar, ternyata ada yang beli. Gue lanjut fokus di affiliate speaker. Masuk bulan ke-4, karena momentum Lebaran, omzet naik. Di titik itu, gue nekat ambil pinjaman online buat beli 2 HP, dengan harapan ini bisa jadi langkah buat ngedorong semuanya lebih jauh.
Tapi hidup nggak berjalan sesuai rencana. Masuk bulan ke-5, omzet drop. Cicilan tetap jalan. Tekanan mulai naik. Lalu di bulan ke-6, gue masuk ke trading.
Di bulan ke-7, gue hancur di trading. Aset dijual semua. Di bulan ke-8, gue hancur untuk kedua kalinya. Stress parah, bingung, dan nyaris ada di titik di mana gue nggak tahu lagi harus ngapain. Yang paling berat bukan cuma uang yang hilang. Tapi rasa malu, rasa gagal, rasa takut, dan rasa seperti hidup gue makin menjauh dari arah yang seharusnya.
Di bulan 9–10, gue masuk ke fase refleksi. Mulai pelan-pelan mengurai hidup gue sendiri. Mulai melihat masalah satu per satu. Mulai mencatat kondisi finansial, cashflow, posisi hidup, pola keputusan, dan luka-luka yang selama ini mungkin cuma gue dorong ke belakang. Di fase ini, gue nggak sedang menang. Tapi untuk pertama kalinya, gue mulai duduk dan jujur melihat kekacauan gue sendiri.
Di bulan 11–12, gue mulai bangkit lagi lewat affiliate. Belum besar, belum aman, belum stabil. Tapi setidaknya ada gerak. Ada usaha untuk kembali berdiri.
Masuk 2026, awal tahun masih goyah. Produk affiliate hilang, hasil drop. Bulan ke-2, stress parah lagi, trading loss lagi, terjerat pinjol lagi. Bulan ke-3, gue dibantu ibu. Bulan ke-4, gue memutuskan off trading dan off affiliate untuk fokus recovery.
Bulan ke-5 2026 adalah fase yang menurut gue paling sulit dijelaskan dengan singkat: fase serba salah. Gue jobless. Takut ambil risiko. Takut mengulang kesalahan. Trauma dengan masa lalu. Ngerasa kalau maju salah, diam juga salah. Mau kerja sama orang, rasanya sudah sulit menyesuaikan setelah sempat independen waktu punya usaha fried chicken. Mau jalan sendiri, takut jatuh lagi.
Di titik itu, masalah terbesar gue bukan cuma uang atau kerjaan, tapi ketakutan untuk hidup lagi setelah terlalu banyak benturan.
Tapi walaupun semuanya belum selesai, ada satu hal yang mulai berubah di akhir Mei 2026: gue mulai merasa bahwa hidup gue belum benar-benar habis. Bahwa mungkin masih ada ruang untuk menyusun ulang semuanya, walaupun pelan-pelan. Walaupun tertatih. Walaupun realita belum sepenuhnya berubah.
Di tengah semua itu, gue mulai kembali ke coding. Bukan dengan megah, bukan dengan modal besar, bukan dengan target jadi developer hebat. Cuma dengan satu niat sederhana: membangun sesuatu yang bisa gue kontrol. Coding memberi gue pegangan — rasa bahwa hidup gue masih bisa dibangun. Gue nggak lagi merasa sepenuhnya stuck.
Chapter ini mungkin paling berat untuk ditulis. Tapi gue rasa, bagian inilah yang paling jujur dari semua yang pernah gue alami.
Tahun 2025 adalah salah satu tahun paling berat, paling kacau, dan paling melelahkan dalam hidup gue. Awalnya, ada harapan. Gue mulai serius di affiliate speaker. Dari sesuatu yang awalnya iseng, ternyata ada hasil. Lalu momentum Lebaran bikin omzet naik. Di titik itu, gue nekat ambil pinjaman online untuk beli dua HP, dengan harapan ini bisa jadi langkah buat ngedorong semuanya lebih jauh.
Tapi omzet drop. Cicilan tetap jalan. Tekanan mulai naik. Lalu gue masuk ke trading — dan dari situ, hidup gue mulai runtuh dengan cepat.
Di bulan ke-7, gue hancur di trading. Aset dijual semua. Di bulan ke-8, gue hancur untuk kedua kalinya. Stress parah, bingung, dan nyaris ada di titik di mana gue nggak tahu lagi harus ngapain. Yang paling berat bukan cuma uang yang hilang. Tapi rasa malu, rasa gagal, rasa takut, dan rasa seperti hidup gue makin menjauh dari arah yang seharusnya.
Masuk 2026, awal tahun masih goyah. Produk affiliate hilang, hasil drop. Bulan ke-2, stress parah lagi, trading loss lagi, terjerat pinjol lagi. Bulan ke-3, gue dibantu ibu — momen yang bikin gue sadar bahwa hidup gue belum benar-benar pulih. Bulan ke-4, gue memutuskan off trading dan off affiliate untuk fokus recovery.
Lalu datang fase yang paling sulit: fase serba salah. Gue jobless. Takut ambil risiko. Takut mengulang kesalahan. Trauma dengan masa lalu. Ngerasa kalau maju salah, diam juga salah. Mau kerja sama orang, rasanya sudah sulit menyesuaikan setelah sempat independen waktu punya usaha fried chicken. Mau jalan sendiri, takut jatuh lagi.
Di titik itu, masalah terbesar gue bukan cuma uang atau kerjaan, tapi ketakutan untuk hidup lagi setelah terlalu banyak benturan.
Kalau gue tarik garis dari semua fase itu, ada 4 hal yang terus berulang dalam hidup gue.
Gue selalu mencari cara untuk bertahan. Bahkan ketika hidup berantakan, gue tetap mencoba jalan — kerja, usaha, belajar, refleksi. Gue nggak benar-benar berhenti.
Gue lebih cocok membangun daripada sekadar mengikuti. Waktu punya usaha sendiri, waktu affiliate jalan, waktu balik ke coding — gue merasa paling hidup.
Kejatuhan terbesar gue datang saat mencari jalan cepat. Trading jadi pelajaran paling mahal — bukan cuma rugi uang, tapi rusaknya mental, arah, dan kepercayaan diri.
Titik balik gue lahir saat kembali ke skill — bukan ke keberuntungan, bukan ke spekulasi, tapi ke sesuatu yang bisa dibangun pelan-pelan. Kali ini, coding.
Gue belum sampai di akhir cerita. Tapi ada satu perbedaan: sekarang gue lebih sadar terhadap hidup gue sendiri.
Gue belum sepenuhnya pulih. Belum sepenuhnya stabil. Belum sepenuhnya aman. Tapi setidaknya sekarang gue tahu bahwa hidup nggak harus langsung beres untuk tetap layak dijalani.
Bukan motivasi. Bukan kesimpulan manis. Ini cuma catatan dari seseorang yang masih belajar hidup.
Jalur gue muter, berantakan, dan sering telat. Tapi semua fase itu tetap membentuk siapa gue hari ini.
Gue pernah ngalamin kerja keras di banyak tempat, tapi hasilnya tetap muter kalau model hidupnya belum tepat.
Trading ngajarin gue ini dengan cara yang brutal. Saat mental nggak stabil, keputusan finansial bisa jadi sangat berbahaya.
Buat gue, pegangan itu datang lagi lewat coding. Sesuatu yang bisa gue bangun, pelajari, dan tingkatkan pelan-pelan.
Bangkit itu sering kali cuma berarti: hari ini gue belum aman, tapi gue sudah mulai jalan lagi.
Gue mungkin berkali-kali jatuh karena hidup, tapi gue nggak mau berhenti membangun.
Gue belum sampai mana-mana,
tapi gue sudah melewati banyak hal.
Halaman ini gue tulis sebagai pengingat bahwa gue pernah bingung, pernah jatuh, pernah kehilangan, pernah ngerasa gagal — tapi gue juga tetap ada di sini, yang artinya gue masih hidup dan gue masih mencoba.